Berita  

Fisika vs Metafisika dalam Logika Berpikir Sains-Digital

Breaking News

EKO: Perpaduan fisika dan metafisika membentuk dasar logika sains-digital dalam memahami realitas ruang dan waktu. Algoritma media sosial dan teknologi AI menjadi penerapan lanjutan dari prinsip sebab-akibat dalam ilmu fisika. Regulasi dan etika diperlukan agar kecerdasan buatan tetap berada dalam kendali nalar manusia
banner 120x600
banner 325x300

SURAKARTA — Ilmu fisika dan metafisika memiliki keterkaitan kuat dalam membangun pola pikir logis dan ilmiah di era digital. Hal itu disampaikan Eko, Mahasiswa S3 Pendidikan IPA Universitas Sebelas Maret Surakarta sekaligus Dosen UIN Antasari Banjarmasin, dalam kajian akademik yang diungkapkannya baru-baru ini.

Menurutnya, fisika mempelajari fenomena alam dan hukum kausalitas peristiwa, seperti gaya gravitasi pada pesawat terbang, Hukum Archimedes pada kapal laut, hingga prediksi cuaca dan aktivitas gunung berapi. Melalui fisika, manusia memahami bahwa setiap peristiwa terjadi berdasarkan sebab-akibat dan dapat dianalisis secara empiris.

Sementara itu, metafisika berperan sebagai filsafat yang menelaah realitas dan keberadaan yang tidak tampak oleh pancaindra, namun diyakini melalui logika dan renungan. Perbedaannya, fisika dapat membuktikan fenomena secara matematis dan eksperimental, sedangkan metafisika memprediksi sesuatu melalui nalar konseptual. “Keduanya sebenarnya saling berkaitan dan saling melengkapi,” ujar Eko.

Eko menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital merupakan hasil kolaborasi antara fisika dan metafisika dalam memahami ruang dan waktu. Ia mencontohkan penggunaan fitur story pada media sosial yang menampilkan koordinat ruang dan waktu, serta algoritma For You Page (FYP) yang bekerja berdasarkan kesamaan kode data dan interaksi pengguna.

Menurutnya, viralnya sebuah unggahan dipengaruhi prinsip fisika mengenai ruang dan waktu yang dipadukan dengan sistem kode digital melalui hashtag sebagai penanda informasi.

Kemajuan intelektual tersebut kini melahirkan Artificial Intelligence (AI) yang mampu mengelola data besar dan memberikan jawaban analitis berdasarkan perintah (prompt) pengguna. AI disebut sebagai bentuk baru dari logika berpikir sains-digital karena memanfaatkan model matematika, algoritma, ruang data dan waktu respons pada sistem digital.

“AI tidak sekadar hasil pengembangan teknologi komputer, tetapi berdiri di atas dasar fisika dan metafisika yang membangun konsep realitas dan pembuktian ilmiah,” jelasnya.

Namun, Eko mengingatkan potensi ketergantungan masyarakat terhadap AI. Tanpa kebijakan dan pembatasan penggunaan, katanya, nilai keilmuan dapat terdegradasi karena seluruh proses berpikir digantikan mesin.

“Pembatasan penggunaan AI seperti kalibrasi dalam fisika: memberi batas agar manusia tetap menjadi pengendali utama,” tegasnya.

Eko menegaskan bahwa kehadiran AI merupakan bagian dari proses panjang perkembangan logika berpikir sains-digital. Dalam ruang dan waktu yang sama, fisika memberikan dasar hukum fisis, sementara metafisika menyediakan refleksi filosofis. Keduanya berpadu membangun teknologi masa depan.

——-

Oleh: Eko Mahasiswa S3 Pendidikan IPA Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dosen UIN Antasari Banjarmasin

 

 

_____________

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *