Tapsel, sinargebraktv.com
Di tengah bentang alam yang subur di Desa Nanggarjati Hutapadang, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), kehidupan masyarakat selama ini bertumpu pada sektor pertanian.
Tanah yang produktif serta kultur gotong-royong yang kuat menjadikan desa ini dikenal sebagai kawasan yang harmonis, dengan mayoritas penduduk berasal dari satu garis keturunan marga Batubara.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, potret keharmonisan tersebut mulai memudar. Sejumlah warga mengaku merasakan adanya perubahan dalam dinamika sosial di desa mereka, yang kini dinilai tidak sekompak sebelumnya.
Perubahan ini mencuat seiring dengan berbagai keluhan terkait arah pembangunan desa di bawah kepemimpinan Kepala Desa Alwis Batubara.
Alwis Batubara, yang disebut-sebut masih merupakan keturunan dari Raja Batubara tokoh yang diyakini pertama kali membuka perkampungan tersebut, kini menghadapi sorotan dari warganya sendiri.
Kritik, terutama diarahkan pada pengelolaan Dana Desa (DD), yang dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap pembangunan fasilitas umum maupun kebutuhan dasar masyarakat.
Seorang warga berinisial Nr mengungkapkan kekecewaannya terhadap realisasi program pembangunan yang dianggap tidak jelas. Ia menyoroti rencana pembangunan Rumah Adat yang sampai kini tak jelas juntrungannya. Sementara, Dana Desa dicomot dengan dalih akan membangun Rumah Adat.
“Kami pernah dengar akan dibangun Rumah Adat menggunakan Dana Desa. Tapi sampai sekarang tidak ada wujudnya. Pembangunan di desa ini terasa lamban. Jadi wajar kalau kami sebagai warga menanyakannya, “ujarnya saat ditemui di sebuah warung kopi, Senin (04/05/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya yang enggan disebutkan namanya. Pria yang akrab disapa Tono itu mempertanyakan realisasi program penyediaan air bersih melalui pemasangan instalasi pipa ke rumah warga.
“Dulu sempat ada rencana pemasangan pipa air bersih ke setiap rumah. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tandanya, “katanya.
Dari penelusuran yang dilakukan, berbagai informasi mengenai penggunaan Dana Desa di Nanggarjati Hutapadang masih simpang siur. Minimnya transparansi disebut menjadi salah satu penyebab munculnya spekulasi dan ketidakpercayaan di tengah masyarakat.
Untuk memperoleh klarifikasi dan memastikan akurasi informasi, pihak media telah berupaya menghubungi Kepala Desa Alwis Batubara melalui pesan WhatsApp (06/05/2026). Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai tata kelola anggaran desa serta mekanisme pengawasan yang berjalan. Warga berharap adanya keterbukaan dari pemerintah desa agar pembangunan yang direncanakan dapat terealisasi secara jelas dan merata.
Disisi lain, gonjang-ganjing masalah pembangunan yang terkesan tertutup, malah semakin menggurita. Bahkan, terdengar celoteh miring, “rata-rata proyek yang dibangun di desa ini, dikerjakan kroni-kroni nya bang, celotehnya.
Selain itu, keterbukaan terhadap masyarakat pun nyaris tak ada. Parahnya lagi, setiap pembangunan sarana jalan, umumnya dibangun berdekatan dengan kawasan lahan milik pak Kades. Hal itu bisa dibuktikan pada proyek pembangunan jalan (Rabat) tahun 2025.lalu. Proyek itu dominan dibangun di sekitar lokasi tanah milik pak Kades, “ujar sumber itu. (Monang).


















